LKS kaltim 2008, sebuah ajang yang terkadang penuh tendensi

Kembali saya menyertai beberapa siswa SMKTI Airlangga Samarinda untuk ikut berkompetisi di salah satu ajang bergengsi tingkat SMK. Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat propinsi Kaltim 2008 kembali digelar. Kali ini lomba mengambil areal Telkom Divre Balikpapan sebagai lokasi persaingan keterampilan siswa tersebut.
Banyak kisah yang sempat tertiup masuk ke dalam bilik-bilik telinga, tentang berbagai kabar yang mewarnai perhelatan tersebut, tentang berbagai pola dan strategi yang diterapkan oleh masing-masing peserta, hingga sekelumit kisah tentang kecurangan dan keberpihakan juri pada beberapa lomba.
Ada hal menarik pada bidang lomba Web Design yang saya menjadi pembimbing M. Rizki Hajar, perwakilan Samarinda asal SMKTI Airlangga.
Lomba Web Design berlangsung selama 3 hari dengan membagi porsi penilaian pada 3 keterampilan, Teori, Praktek dan Presentasi. Sesi Teori dapat diselesaikan dengan baik oleh M. Rizki Hajar dengan mengantongi nilai 70, sebagai nilai tertinggi untuk sesi ini.
Praktek berlangsung pada hari ke-2 dan ke-3. Hari ke-3 itu juga, yaitu pada sesi sore hari dilanjutkan dengan sesi Presentasi sebagai sesi akhir penilaian dengan porsi penilain 10%.
Pada sesi presentasi ini peserta diuji kemampuan mereka dalam menyampaikan atau mempresentasikan produk website yang telah mereka buat, dan buat saya sekaligus menguji kemampuan dan kedalaman dewan juri terhadap penguasaan materi yang mereka nilai tersebut. Jadi secara diam-diam saya juga ikut mengamati, menganalisa setiap lontaran pertanyaan yang disampaikan pada para peserta lomba.
Bagi saya, dari sekian pertanyaan yang disampaikan dewan juri kepada para peserta lomba, sungguh membuat saya kecewa, gemas dan sangat 'lucu' kalau status 'Juri' disematkan pada mereka. Bagaimana tidak, terlalu banyak pertanyaan yang menurut saya sangat tidak 'berbobot' dan disampaikan berulang kali pada peserta yang sama. Bahkan terkadang dewan juri seakan memposisikan peserta seperti pesakitan (terdakwa) yang diintimidasi dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan yang sungguh 'tidak pantas' jika keluar dari bibir seorang yang berstatus juri.
Salah satu contoh begini, ketika siswa saya sedang mempresentasikan website dengan content pusat informasi pendidikan di Kalimantan Timur. Eh, ternyata salah satu juri justru menyalahkan siswa saya tersebut dengan mengatakan kurang lebihnya begini, "Semestinya buat sebuah situs pemerintahan itu kamu tidak membuat gambar yang terlalu besar, demikian juga animasi kamu. Kamu juga mestinya mempelajari bagaimana meletakan menu-menu itu dengan benar. Website formal seperti web pemerintahan itu harus dibangun dengan memperhatikan tata krama dan etikanya". Kalimat ini cukup membuat siswa saya gusar, sehingga langsung ditanggapi dengan kalimat "Maaf pak ya, seperti yang kita lihat bersama, saya tidak membuat website pemerintahan, saya membuat website tentang pusat informasi pendidikan yang ada di Kalimantan Timur". Ini adalah salah satu contoh kalimat yang berasal dari para juri tersebut ketika melakukan penilaian. Sering tidak relevan dan cenderung memaksakan diri untuk mengeluarkan kata-kata koreksi dan kesalahan terhadap karya siswa tersebut.
Masih banyak kisah-kisah menarik lain yang mewarnai ajang kompetisi ini, bukan hanya di bidang lomba web design, demikian juga di beberapa lomba yang lain.
Sehingga semangat 'Sportifitas', 'Fair Play', yang diusung panitia pelaksana lomba masih meninggalkan pertanyaan besar. Terutama pada peserta yang dirugikan karena "keberpihakan ini".





5 Komentar:
Assalamu'alikum wr. wb.
wah selamat nih buat pak Malik,
kesampaian nih jalan-jalan di Makassar...jangang mi lupa ki' di, makang pisang epe' di sana ntar
wassalam,
riswan
Mas Malik,
Kemaren saya seneng banget mengetahui kalau tiga medali emas dari 4 mata lomba IT diboyong oleh Tim SMK TI Samarinda. Tapi hari ini saya jadi berfikir lain. Jangan-jangan hasil-hasil ini nggak valid mengingat kemampuan jurinya yang masih di bawah standar, paling tidak, itu yang saya tangkap dari posting mas Malik. Semoga nggak demikian.
Saya mewakili kawan-kawan di kepanitiaan tentu sangat sedih mendengar hal ini. Kami tentu mohon maaf atas kekurangan ini dan hal ini sekaligus`menjadi masukan yang sangat berguna tentunya bagi penyelenggaraan LKS kedepan. semoga !
salam hangat dari Balikpapan
syamsul
to Pak Syamsul,
Pak, postingan ini dilakukan jauh sebelum saya tau hasil penjurian sama sekali. Jadi murni ini merupakan pandangan pribadi terhadap proses penjurian yang dilakukan, khususnya pada sesi presentasi Web Design.
Saya melihat ada beberapa hal yang barangkali kurang di evaluasi oleh panitia dan dewan juri, diantaranya;
- Dari komentar2nya dewan juri sangat mengaharapkan siswa dapat memaksimalkan kreatifitasnya dalam pembuatan website padahal,
1. Content yang disediakan sangat sedikit, ini berbeda dengan tahun lalu di Polnes Smd, dimana content disediakan dengan category.
2. Antara satu content dengan yang lain tampak tidak saling berkaitan (ada gambar Sby, Awang Faroek, Logo LKS, Logo Diknas, Logo PON, beberapa file .doc yang sekali lagi 'menurut saya' tidak saling berhubungan, dll).
3. Siswa tidak diarahkan untuk membuat website dengan satu tema, akan tetapi dibebaskan membuat website apa saja dengan content yang ada, nah bingung khan :).
4. Content sepertinya disediakan secara tergesa-gesa dan sepertinya merupakan hasil dari Perintah File->Save Page As (pada browser Firefox, atau yang semisal pada browser yang lain, kemudian ditambahkan beberapa file .doc).
Atau barangkali postingan saya ini yang terlalu tendensius ? ^_^, jangan marah pak :)
Salam Balik dari Samarinda
masmalik
Mas`Malik,
Thanks penjelasannya. saya dah copy paste ke file saya sebagai masukan bagi para juri LKS bidang IT di masa-masa yang akan datang. Semoga bermanfaat.
Salam hangat saya buat pak Adri, pak Sigit dan kawan-kawan lainnya, terutama tim LKS SMK TI Samarinda.
Bravo SMK TI Samarinda !
syamsul
Bravo SMKTI Airlangga Samarinda!
Bravo SMK Airlangga Balikpapan!
Bravo Pak Syamsul!
Post a Comment